Artikel

KESEPIANKAH ANAK REMAJA KITA DI RUMAH?

Oleh: Marsaulina, S. Gultom
Jumat, 03 Juni 2016

Bapak psikologi remaja, G. Stanley Hall menyebut masa remaja ini adalah masa  storm and stress, masa yang sulit dan menegangkan. Untuk sebagian remaja masa ini adalah yang sulit, karena  mereka   sudah   mulai  dihadapkan  dengan tugas perkembangannya seperti tanggungjawab atau tuntutan   dari   lingkungannya.   Menegangkan   dan dapat menimbulkan tekanan karena pada masa ini juga mulai bermunculan konflik. Konflik muncul baik dari dalam diri  sebagai  proses pencarian  diri   dan lingkungannya.   Willis (2004) menyebutkan   pada masa remaja banyak terjadi masalah yang dihadapi dikarenakan  tingkah laku remaja masih labil dan belum mampu  menyesuaikan diri dengan berbagai   tuntutan   dari   lingkungan.   Remaja   juga   mulai   mendapat   nilai-nilai   baru   yang didapatnya selain dari keluarga seperti dari sekolah, teman sebaya dan lingkungan sosialnya. Dengan situasi seperti itu masa remaja adalah masa penuh dengan gejolak dan penuh dengan kebingungan karena adanya berbagai pengaruh.

 REMAJA

 Ada beberapa batasan usia remaja,menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks,dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock,     2003)     usia     remaja berada  pada rentang 12-23 tahun. Seperti disebut sebelumnya, masa remaja ini sangat penting  karena masa remaja adalah masa menuju    kedewasaan.  Jika    dia berhasil melalui masa ini dengan baik, maka tantangan-tantangan di masa  selanjutnya   akan   relatif   mudah diatasi (Rajab, 2005). Dengan kata lain, remaja yang berhasil menghadapi tantangan di masa remajanya sudah memiliki modal untuk masuk pada masa dewasanya dengan baik. Begitupun sebaliknya, bila dia gagal maka pada tahap perkembangan berikutnya besar kemungkinan akan terjadi masalah pada dirinya. Dengan demikian remaja perlu melakukan penyesuaian. Namun, remaja yang yang salah melakukan penyesuaian, akan melakukan tindakan atau perilaku yang tidak realistis bahkan cenderung melarikan diri daritanggung jawabnya (Latipun & Moeljono,2001). Perilaku-perilaku tersebut diantaranya: mengkonsumsi minuman beralkohol, penyalahgunaan obat dan zat aditif. Berkaitan dengan pelepasan tanggung jawabnya, di kalangan remaja juga dijumpai banyak usaha bunuh diri, tingginya angka delinkuensi (kenakalan remaja). Remaja dalam situasi seperti ini sering menimbulkan masalah dan masalah yang ditimbulkan tidak saja terbatas dalam lingkungan keluarga tetapi juga sampai di tengah -tengah masyarakat luas.

 Remaja dan Keterlibatan Permasalahan

 Data yang mengejutkan dari KPAI untuk tahun 2014 jumlah anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan   naik  10  persen.  (http:  //health.detik.com/  read/2014/12/30/170045/2790328/763/komnas-pa-2014-jumlah-anak-yang-jadi-pelaku-kekerasan-naik-10-persen). Penelitian yang dilakukan  pada  tahun  2014  menyebutkan  bahwa  dari  total  63  juta  remaja  di  Indonesia, sebanyak   14,4   juta   remaja   Indonesia sudah pernah mengkonsumsi minuman keras http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/03/08/nkvsch-fahira-idris-144-juta-remaja-pernah-konsumsi-miras). Dengan kata lain ada 23 persen remaja Indonesia yang sudah berhubungan dengan minuman keras (miras) padahal pada tahun 2007, remaja yang terlibat miras  sebanyak  4,9  persen,  dengan  demikian terjadi peningkatan remaja yang terlibat penggunaan miras.

Data dari http://megapolitan.harianterbit.com/megapol/2014/09/13/8219/18/18/22-Persen-Pengguna-Narkoba-Kalangan-Pelajar  menyebutkan   dari empat juta orang di Indonesia yang menyalahgunakan narkoba, 22 persen di antaranya ada lah anak muda yang masih duduk di bangku sekolah dan universitas dan umumnya  penggunanya berusia 15-20 tahun.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (2015) menegaskan bahwa saat ini Indonesia sudah masuk darurat pornografi. Ini artinya jika Indonesia sudah darurat pornografi, maka perilaku seks bebas sudah sangat membahayakan remaja Indonesia karena penelitian menyebutkan ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap pornografi dengan perilaku seks bebas (Rachmah dalam http://univ45sby.ac.id/jurnal/index.php/psikologi/article/view/8/6). Problem terhadap bagaimana berperilaku pada anak juga meningkat, dari stress ujian, kesulitan belajar, kesulitan fokus, gejala ADHD dan lain sebagainya. Walaupun belum ada data mengenai gejala stress and depresi pada anak di Indonesia, namun kasus bunuh diri yang berkembang pada anak dan remaja adalah gambaran mengenai berkembangnya persoalan psikologis pada anak dan remaja di Indonesia. Page (2006) memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perilaku bunuh diri dan kesepian pada remaja.

 Kesepian

Peplau dan Perlman dalam Byrne dan Baron (2005) mendefinisikan kesepian sebagai suatu keinginan yang tidak   terpenuhi   untuk membangun hubungan interpersonal yang akrab. Menurut Sears dkk ( 1994 ) kesepian menunjuk pada kegelisahan subyektif yang dirasakan pada saat hubungan seseorang kehilangan ciri-ciri pentingnya. Hilangnya ciri-ciri tersebut bersifat kuantitatif yaitu tidak mempunyai teman atau hanya mempunyai sedikit teman seperti yang diinginkan.     Kekurangan     itu     dapat    bersifat kualitatif yaitu seseorang mungkin merasa bahwa hubungan sosialnya dangkal atau kurang memuaskan dibandingkan dengan apa yang diharapkan.

Kesepian tidak selalu sedang sendiri

 Alone is not lonelyAlone berarti sendirian tapi lonely dapat diterjemahkan merasa sendiri atau kesepian.Weiss (dalam  Rotenberg,  1999)  mendefinisikan kesepian sebagai suatu kondisi emosional negatif dan orang      yang kesepian biasanya merasa sendirian walaupun berada di tengah- tengah kerumunan ataupun keramaian. Dalam Nurmina (2008) ada beberapa aspek kesepian, dengan : Indikator  emosi,  yaitu  :  kehadiran  rasa  sakit  secara  emosional berupa rasa sedih dan         bosan, Indikator  kognitif,  yaitu  :  munculnya  persepsi  bahwa hubungan  sosialnya  tidak  sesuai dengan  yang diharapkan,      Indikator interpersonal bahwa ia mengalami keterpisahan fisik dan psikologis dengan orang lain.

Kesepian Pada Remaja

 

Masa remaja adalah masa yang sangat rentan terhadap kesepian ( Bre nnan dalam Baron & Byrne, 2005 ; Myers, 1990 ). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Parlee dalam Sears ( 1994 ) memperlihatkan bahwa kesepian yang tertinggi terjadi di antara para remaja. Kesepian yang terjadi pada remaja lebih disebabkan karena remaja tengah mengalami proses perkembangan yang  kompleks.  Perkembangan  yang  meningkatkan  perasaan  terisolasi,  kebutuhan  akan individu lain dan kecemasan terhadap masa depannya ( Brennan dalam Adi, 2000). Sullivan dalam Santrock ( 2002 ) mengatakan bahwa jika remaja gagal untuk membentuk persahabatan yang akrab, mereka akan mengalami perasaan kesepian diikuti dengan rasa harga diri yang menurun. Remaja yang kesepian mempunyai sedikit teman karena merasa ditolak sehingga memilih   untuk   tidak   bergabung   dengan   teman-teman   sebayanya   (Fuhrmann,   1990). Sependapat dengan hal ini, Zimbardo (dalam Fuhrmann,1990) mengatakan bahwa remaja yang kesepian  cenderung  pemalu  sehingga  lebih  suka  sendiri  dan  ragu-ragu  dalam  menjalin hubungan sosial. Goswick (dalam Fuhrmann, 1990) mengatakan bahwa kesepian pada remaja

berhubungan dengan adanya perasaan inferior yang dimiliki remaja dan tidak adanya penerimaan sosial dan fasilitas sosial. Ia juga menambahkan bahwa, sebenarnya kesepian merupakan hal yang wajar  bagi remaja, hanya saja mereka  seringkali memperburuk keadaan tersebut dengan perasaan dan pikiran subyektif mereka yang negatif.

Kesepian berdampak terhadap kesehatan psikologis dan rasa tidak nyaman pada remaja

 

(Corsano, 2006, Cohen, dkk, 2005, Hardie, 2007). Perasaan bosan, sedih, malas & takut ditinggal adalah contoh kesehatan psikologis remaja yang tergganggu. Jika ada anggapan  lansia yang sering  merasa  kesepian  maka  kita  perlu  melihat  hasil  penelitian  yang  berikut  ini. Tingkat kesepian  paling  tinggi  ternyata  ada  pada  masa  remaja  (Santrock,  2005  ;  Rice,  2002).  Ini didukung pula penelitian yang dilakukan Parlee (dalam Sears, dkk) menyebutkan 79 % individu yang berusia dibawah 18 tahun merasa kesepian, yang merasa kesepian usia 45-54 tahun sebanyak 53% dan yang merasa kesepian diatas usia 55 tahun hanya 37. Tingginya angka remaja kesepian ini dapat dijelaskan karena pada masa remaja, seseorang memiliki kebutuhan tinggi untuk berhubungan dekat namun kurang memiliki ketrampilan  sosial  yang cukup untuk membentuk hubungan  sosial yang ma tang dan dapat memenuhi   kehidupannya   (Nurmina,   2008).   Dengan   kata   lain,   jika   kebutuhan   untuk berhubungan  dekat  sangat  diperlukan  namun  remaja  tidak  mendapatkannya  dari lingkungannya atau remaja tersebut tidak mampu melakukan penyesuaian maka terjadilah kesepian.

 

Remaja kesepian dan internet

 Agar anak betah di rumah dan tidak merasa kesepian terkadang kita pun memfasilitasinya dengan internet. Namun berhati-hatilah, penelitian menyebutkan tingginya kesepian emosional ditemukan pada individu yang kecanduan internet (Hardie, 2007). Kesepian emosional oleh Weiss (dalam Rotenberg, 1999) digambarkan sebagai perasaan kehilangan orang terdekat.  Ini seperti yang terjadi pada seseorang yang takut ditinggal oleh orangtuanya, ada perasaan cemas, kosong dan merasa terasing. Terkait fasilitas internet kiranya perlu dilakukan pendampingan dan edukasi sehingga anak juga dapat memilah mana content yang tepat untuknya. Games digital sekarang ini pun sudah  disusupi  oleh pornografi.     Mengusir  kesepian  pada  anak  dengan  membiark annya bermain games terlalu lama dan mengandung unsur kekerasan pun akan membahayakannya. Tidak  hanya  buruk  untuk  kesehatan  fisiknya  juga  akibat  terpapar     games  mengandung kekerasan pun akan membuat anak permisif dengan kekerasan dan berperilaku agresif, membuat anak menganggap memukul, menendang atau perilaku agresif lainnya adalah hal yang biasa.

Orangtua berpeluang menimbulkan rasa kesepian pada anak

 Atas nama profesioanalisme, mencari nafkah untuk anak, seringkali anak menjadi terabaikan. Berangkat subuh pulang malam semua memang dilakukan untuk anak. Semua kebutuhan anak dicukupi. Sekolah mahal, pengasuh di rumah, fasilitas gadget dari      jenis apapun ada. Tapi pernahkah  kita berpikir tentang kebutuhan psikologisnya?  yang  diharapkan tidak    sesuai dengan    kenyataan.    Adakah   kita ada mendampinginya saat ia merasa sedih, kecewa karena  iaana untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak/remaja kita :  being there. Selalu ada ketika ia butuhkan, baik langsung ataupun tidak langsung, meskipun kita sangat sibuk. Itu lebih penting dan membahagiakan para remaja itu. Tidak pula mengeluarkan kalimat klasik : yang penting kualitas bukan kuantitas. Kualitas pun akan mudah dilupakan jika intensitas kebersamaan dengan anak anak jarang sekali dilakukan. Sebagai ayah/ibu/nenek/kakek/paman/ibu pernahkah kita berpikir, di waktu yang sama kita sedang bekerja atau sedang melakukan kegiatan apapun, diwaktu yang sama pula anak/remaja kita itu sedang merindukan kita. Ternyata di detik-detik itu ia sedang butuh orang yang tidak hanya sekedar mendengar keluh kesahnya, sejenak menyediakan bahu kita untuknya bersandar  atau  memeluknya  karena  ternyata  ia  sedang  perlu  menumpahkan  airmatanya. Jangan biarkan detik-detik ia sedang memerlukan kita dan 'sedang merasa sendiri' jadi berakhir dengan tragis. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan  dan being there with them.

 

Faktor Perceraian Orang Tua

 

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sosial anak adalah faktor ketidakutuhan keluarga meliputi perceraian dan kematian salah satu orangtua. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa remaja dibawah pengasuhan orangtua tunggal lebih banyak mempunyai masalah psikososial dibanding remaja dengan orangtua lengkap. Studi yang dilakukan oleh Wallerstein dan McLanahan menemukan bahwa remaja korban perceraian dan single parent lebih rentan untuk melakukan kekerasan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, bunuh diri, drop out dari sekolah, menjadi pengangguran, melakukan seks pranikah, dan mengalami perceraian didalam kehidupan pernikahannya kelak (Khisbiyah, 1994). Mereka juga sering merasa tidak bahagia dan kesepian, mempunyai ketidakstabilan emosi (Khisbiyah, 1994). Longfellow dalam Sears (1985) mulai berusaha memahami berbagai pengaruh perceraian terhadap anak. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa anak akibat perceraian bisa menjadi lebih  peka  terhadap  kesepian ketika mereka menginjak kedewasaan. Kesepian yang terjadi pada remaja lebih disebabkan karena remaja tengah mengalami proses perkembangan ya ng kompleks.

Perkembangan yang meningkatkan perasaan terisolasi, kebutuhan akan individu lain dan kecemasan terhadap masa depannya (Brennan dalam Adi, 2000). Akibat remaja kehilangan tempat berpegang untuk mencurahkan perasaannya, mereka sering merasa tidak bahagia dan kesepian karena tidak adanya kepuasan dalam hal berkomunikasi dengan orangtuanya.

Hal  yang  diungkapkan  diatas  berkaitan  dengan  kualitas  komunikasi  pada  remaja  dengan orangtua tunggal, dimana remaja yang komunikasinya dengan orangtua tunggal r endah atau tidak berkualitas akan cenderung mengalami kesepian karena remaja menganggap bahwa dirinya   tidak   dimengerti   dan   dipahami   oleh   orangtuanya   dan   merasa   orangtua   tidak menyayangi mereka  dan  cenderung mengkompensasikannya melalui tindakan yang  agresif, frustasi dan kesepian (Istyarini, 2001).

 

Kesepian pada Remaja dan Kecenderungan Permasalahan yang ditimbulkanKesepian dan sifat anti sosial

 

Aplikasi dan perwujudan dari terasing adalah kesepian. Jika seseorang sudah merasa diasingkan maka orang tersebut akan mengalami kesepian dalam diri dan lingkunga sehingga merasa sepia tau  kesepian.  Jika  hal  ini  terus  dibiarkan  maka orang  tersebut akan  kehilangan  unsur dan karakter unik dalam dirinya senhingga dia pun sulit untuk  tidak segera  diatasi  akan berdampak buruk   pada diri remaja tersebut. Sehingga para remaja ini memustuskan untuk menyendiri dan tidak  berinteraksi kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya   yang dalam  jangka  waktu  kedepannya akan  mengakibatkan  para remaja ini menjadi ansos (anti sosial).  Contohnya adalah ketika seorang remaja yang dianggap mempunyai kelakuan atau sikap yang  aneh,  otomatis  ia  akan  dijauhi  oleh  teman-temannya,  dan  pada  saat  itulah  remaja tersebut merasa terasingkan dan membuatnya merasa kesepian sehingga akibatnya ia menjadi ansos (anti sosial) karena ia merasa takut dengan dunia luar, rasa takut disini maksudnya adalah takut bertemu orang-orang yang menjauhinya dan takut tidak bisa diterima oleh orang-orang.

Remaja Kesepian Dan Potensi Timbulnya Penyakit

Selain itu, dari sudut pandang psikologis, orang yang esepian cenderung melihat dunia sebagai tempat yang mengancam dirinya. Akibatnya, mereka yang terisolasi secara sosial kebanyakan menderita penyakit yang berujung pada kematian, seperti kanker dan jantung. Cole menyarankan bagi mereka yang merasa kesepian karena ditinggal orang terkasih, atau baru pindah ke tempat baru dan belum mengenal banyak orang, berilah tenggat untuk mengusir rasa sepi itu maksimal selama enam bulan. Supaya  tidak  dilanda  rasa  kesepian,  selama  periode  itu  bangunlah  pergaulan  dan melihat dunia dari sisi positif. Menurut Profesor Dadang, seringkali rasa sepi diperparah oleh pilihan pribadi alias bunuh diri. "Karena kesepian enggak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup, lalu pilih mati saja," katanya. Menurut Hawari, fenomena semacam ini lazim terdapat di kota-kota  besar.  "Bedanya,  kalau  di  Barat  mereka  mayoritas  pilih  main  Binggo,  kalau  di Indonesia lebih cenderung mengisi kesepian dengan ibadah," katanya.

 

FAKTOR ORANG TUA TERHADAP TIMBULNYA KESEPIAN DALAM DIRI REMAJA

Tidak menjalin komunikasi yang harmonis dengan remaja

 

Komunikasi adalah alat penting dalam berinteraksi dengan sesama                                                          manusia, termasuk dengan     buah     hati     kita.   Namun  sayangnya,  tidak sedikit  orangtua  yang tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan anak- anaknya. Karena alasan sama-sama sibuk maka sulit           berkomunikasi. Padahal dengan komunikasi yang sehat  antara  orangtua  dan anak bisa memagari anak dari perilaku yang tidak baik. Ketika anak kita menginjak usia remaja, banyak hal baru yang akan dialaminya. Sehingga mereka mudah galau dan memerlukan tempat untuk curhat. Apa jadinya jika komunikasi remaja dengan orangtuanya tersumbat. Mereka akan mencari   tempat   curhat   yang   lain.   Kalau   mereka   menemukan   sosok   yang   baik   selain orangtuanya tidak jadi masalah, tapi jika menemukan sosok yang tidak baik bisa fatal akibatnya. Ada contoh kasus, seorang remaja yang merasa kesepian di rumah. Kemudian ia mencari obat kesepian dengan nongkrong bersama teman-temannya. Kehadirannya disambut hangat oleh seorang gembong narkoba. Anak itu mendapatkan apa yang dicarinya, persahabatan, tempat curhat, dan perhatian yang semua itu tidak didapatnya di rumah. Singkat cerita, anak itu pun menjadi  pecandu  narkoba  dan  sekaligus  pengedar  narkoba.  Masa  mudanya hancur  karena berawal dari masalah komunikasi.

 

Orangtua tidak berhasil membuang sampah dalam dirinya

 

Tekanan pekerjaan, beban hidup yang semakin berat,  dan letih menyebabkan kita menyimpan emosi yang siap meledak. Emosi itu adalah sampah dalam diri kita. Alangkah bahayanya jika kita membawa sampah itu ketika berinteraksi dengan buah hati. Kita menjadi mudah terpancing emosi dengan hal-hal sepele di hadapan anak kita. Bisa jadi anak-anak kita-lah tempat membuang sampah dalam diri kita. Mereka menjadi luapan emosi kita.Apa yang mereka rasakan jika terus menerus menjadi tempat sampah orangtuanya? Marah, benci, merasa direndahkan, dendam, dan masih banyak lagi rasa yang bersemanyam dalam hati anak-anak itu. Rasa-rasa itulah yang mengantarkan anak remaja kita menjadi sosok yang bengal dan susah diatur.

 

Orangtua tidak berempati pada anak remajanya

 

Sekali lagi bahwa anak remaja kita akan mengalami banyak hal baru yang menyebabkan mereka kebingungan dengan diri sendiri. Acapkali orangtua tidak mau tahu dengan ketidak nyamanan anaknya. Sehingga   anak-anak   itu   mencari   solusi   sendiri dengan resiko melangkah di luar rel kebenaran. Orang tua juga haus akan prestasi anak. Banyak orangtua yang merasa sangat bahagia ketika anak-anaknya mendapat prestasi, terutama prestasi akademik, sehingga orangtua menekan anak- anaknya untuk meraih prestasi gemilang. Anak-anak dipaksa untuk mengikuti berbagai les agar meraih prestasi. Hidup di bawah tekanan sangatlah tidak nyaman. Begitu pun dengan anak remaja kita. Jadilah mereka tidak nyaman dan kesepian, akhirnya mereka berlari dari tekanan itu kepada hal-hal negatif misalnya narkoba, berselancar di internet, menikmati pornografi, dan lain sebagainya.

*) Penulis adalah Widyaiswara pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan kesejahteraan Sosial-Kementerian Sosial RI

 

Share on:

Artikel lainnya

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar
 

Search
Pesona Tanah Datar
Laporan Pengaduan
Tautan
GPR Kominfo
Galeri Foto
Social Media
Instagram
Kontak Kami
Lambang Pemerintah Kabupaten Tanah Datar

Alamat: Jl. Sultan Alam Bagagarsyah Pagaruyung Batusangkar
Tanah Datar 27281
Sumatera Barat
Telpon: 0752 4415030
Fax: 0752 71500
E-mail: kominfo@tanahdatar.go.id